Logo Kuria
Mahasiswa POLINES Raih Juara 1 NATECOM 2025, Tawarkan Inovasi GFRP Rebar di Indonesia thumbnail

Mahasiswa POLINES Raih Juara 1 NATECOM 2025, Tawarkan Inovasi GFRP Rebar di Indonesia

Published on 7/10/2025 by Admin


Tiga mahasiswa dari Politeknik Negeri Semarang (Polines) berhasil mengharumkan nama kampusnya dengan menjuarai ajang National Tender Competition (NATECOM) 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Tim yang beranggotakan 3 orang yaitu Muhammad Naufal Amarully Susatyo, Nisrina Dhia Putri Pratama, dan Linna Ayu Wulandari, mahasiswa semester 4 dari POLINES ini sukses meraih Juara Pertama dengan perolehan nilai akhir 815,93. Yang unggul di antara 50 tim kampus ternama di Indonesia seperti UNS, ITS, UNNES, dan UMP sendiri.
Kompetisi tender nasional ini mengangkat proyek pembangunan laboratorium Fakultas Pertanian dan Perikanan UMP, dengan penekanan pada inovasi konstruksi yang berkelanjutan dan efisien. Tim Polines tampil menonjol dengan mengusung sejumlah inovasi mutakhir dalam perencanaan struktur bangunan, antara lain:
  • GFRP Rebar (Kuriabar) – tulangan komposit yang tahan korosi dan ringan, didukung data uji, SNI, serta studi kasus proyek aktual.
  • FRC (Fiber Reinforced Concrete) – beton berserat untuk peningkatan daktilitas.
  • Fly Ash Concrete – pemanfaatan limbah PLTU sebagai bahan substitusi semen.
  • Bekisting knock down – sistem bekisting efisien dan dapat digunakan berulang.
  • High Early Strength Concrete (HESC) – beton dengan kekuatan awal tinggi untuk efisiensi waktu pengerjaan.
  • Manajemen limbah konstruksi
  • Penggunaan material ramah lingkungan

Tantangan Kompetisi

Keberhasilan tim Polines tidak terlepas dari keahlian mereka dalam mengangkat inovasi lokal seperti Kuriabar (produk GFRP Rebar buatan dalam negeri). Mereka mencantumkan kelebihan-kelebihan material Kuriabar, hasil uji laboratorium Kuriabar, serta pengalaman penggunaan GFRP pada beberapa proyek nyata di Indonesia, membuat proposal mereka unggul secara teknis dan visioner. Namun, perjalanan menjadi juara tidak sepenuhnya mulus. Tim sempat menghadapi sejumlah pertanyaan dari juri yang belum bisa mereka jawab secara lengkap. Meski demikian, konsistensi, data yang kuat, dan pemaparan menyeluruh menjadi kunci keberhasilan mereka.

Babak Final dan Persaingan Ketat

Di babak final, tim Polines bersaing ketat dengan empat tim terbaik lainnya: Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). UNNES menempati posisi kedua dengan skor 797,83, dan menariknya, mereka juga mengangkat inovasi yang sama yaitu Kuriabar. Dewan juri pada kompetisi ini terdiri dari perwakilan Kementerian PUPR, dosen Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), dan dosen UMP, menjadikan ajang ini sebagai kompetisi yang sangat ketat dan bersaing.

Harapan untuk Masa Depan Konstruksi Indonesia

Dalam wawancara singkat dengan mereka, tim menyampaikan pandangan terhadap lambatnya adaptasi inovasi di dunia konstruksi Indonesia. “Di luar negeri, inovasi terus berkembang dan cepat diterima. Tapi di Indonesia, masyarakat masih sulit menerima hal baru, terutama dalam hal konstruksi,” ungkap mereka. Namun, mereka optimis terhadap masa depan. “Kami berharap inovasi material dan metode pengerjaan dapat lebih diterapkan agar mempercepat pembangunan. Kita masih tertinggal puluhan tahun dibanding negara lain,” jelas Naufal. Ketika ditanya mengapa inovasi penting dalam konstruksi, mereka menjawab lugas, “Inovasi itu wajib. Bisa menekan biaya, mempercepat pekerjaan, dan membuka potensi efektivitas baru dalam pembangunan.”
Sebagai material inovatif yang masih relatif baru di Indonesia, GFRP rebar kini sudah diproduksi di tanah air , dan Kuria sudah bekerjasama dengan Distributor untuk menyediakan Kuriabar di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu produk unggulan adalah KuriaBar. Untuk informasi lebih lanjut dan berbagai penawaran menarik lainnya, hubungi Whatsapp kami atau kunjungi halaman Instagram atau Tiktok kami.