
Rob Datang, Kota Tenggelam Pelan-Pelan, Sudah Siapkah Infrastruktur Kita?
Published on 10/21/2025 by Admin
Air yang dulu jadi sumber kehidupan, kini jadi ancaman baru bagi kota-kota pesisir. Di utara Jawa, genangan bukan lagi peristiwa musiman, ia sudah jadi bagian dari keseharian. Jalan-jalan yang dulu padat kendaraan kini terendam setiap pagi. Rumah-rumah warga ditinggikan sedikit demi sedikit, tapi air juga semakin naik pelan-pelan, seolah menolak kalah.
Namun, pembangunan kota berjalan seolah tanahnya masih kokoh dan kering. Infrastruktur kita tumbuh dengan logika yang menganggap air hanya sementara, padahal ia sudah menetap. Drainase dibangun tanpa mempertimbangkan penurunan muka tanah. Jalan diperbaiki tanpa menyesuaikan tinggi muka air. Di beberapa titik, bahkan bangunan baru berdiri di atas tanah yang setiap tahun tenggelam beberapa sentimeter.
Ketika Adaptasi Tak Secepat Kenaikan Air
Masalah rob bukan hanya tentang air laut yang meluap, tapi soal bagaimana kota beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Di banyak wilayah pesisir, pembangunan terus berjalan, tapi desain infrastruktur jarang berubah. Padahal, kenaikan muka air laut dan penurunan tanah sudah terjadi selama puluhan tahun, dan laju kerusakannya makin cepat.
Akibatnya, investasi jangka panjang justru rentan rusak lebih cepat. Jalan beton tergerus air asin, tulangan baja mulai berkarat bahkan sebelum proyek berumur lima tahun. Kerugian tidak hanya pada infrastruktur, tapi juga pada aktivitas ekonomi yang terhenti setiap kali genangan datang.
Rob dan Pembangunan Daerah Sayung, Kab. Demak
Salah satu contoh paling nyata ada di Sayung, Kabupaten Demak. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan dampak rob terparah di pesisir utara Jawa Tengah. Setiap tahun, sebagian besar wilayahnya tergenang, namun justru di situ pula berdiri Jatengland Industrial Park Sayung (JIPS), kawasan industri baru yang berkembang di tengah tantangan tersebut.
Pembangunan kawasan itu menghadirkan pertanyaan besar:
“Bagaimana membangun infrastruktur di tanah yang tak lagi benar-benar kering?”
Jawabannya ada pada cara mereka mengadaptasi material dan teknologi konstruksi.
Membangun di Tengah Rob, Material Lama Tak Lagi Cukup
Infrastruktur di kawasan seperti Sayung menghadapi tantangan ekstrem: paparan air laut, kelembapan tinggi, dan tanah yang tidak stabil.
Baja konvensional yang selama ini jadi tulang punggung konstruksi mulai menunjukkan kelemahannya; cepat korosi, menurunkan daya tahan struktur, dan memperpendek usia bangunan.
Dari situ, muncul kebutuhan untuk mencari material baru, yang tidak hanya kuat, tapi tahan terhadap lingkungan yang berubah.
Material Solusi
Sebagai bagian dari solusi, kawasan industri di Sayung kini banyak menggunakan KURIA Bar, batang penguat berbahan Glass Fiber Reinforced Polymer (GFRP) yang dirancang untuk menggantikan baja di kondisi ekstrem.
Material ini punya keunggulan yang sangat relevan dengan kondisi pesisir:
- Anti korosi, sehingga tidak rusak meskipun terpapar air asin terus-menerus.
- Ringan dan mudah diaplikasikan, mempermudah konstruksi di area lembap.
- Presisi tinggi, menjaga kualitas dan kekuatan struktur dalam jangka panjang.
- Efisien, bisa dipesan hingga 100m tanpa putus. Dengan harga yang lebih murah dari tulangan konvensional.
KURIA Bar digunakan di berbagai bagian infrastruktur JIPS:
mulai dari jalan utama dan area ruko:
hingga sistem saluran air. Bukan hanya sebagai alternatif baja, tapi sebagai bagian dari sistem baru yang memungkinkan pembangunan tetap berjalan di wilayah rob.
Kasus Sayung menunjukkan satu hal penting: masalah rob tidak bisa dihadapi dengan pendekatan lama. Kota yang berubah membutuhkan cara baru untuk membangun, mulai dari material, desain, hingga mindset perencanaannya.
Adaptasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan dasar agar kota tetap bisa bertahan dan tumbuh di tengah perubahan iklim. Ketika kota tak lagi kering, yang dibutuhkan bukan sekadar beton dan baja, tapi kesadaran bahwa infrastruktur harus hidup berdampingan dengan air, bukan menolaknya.
Rob mungkin tak bisa dihindari, tapi dampaknya bisa diminimalkan. Melalui teknologi komposit seperti KURIA Bar, pembangunan bisa tetap berlanjut di tengah genangan; lebih kuat, lebih efisien, dan lebih siap menghadapi masa depan. Hubungi tim KURIA untuk info lebih lanjut.
